
Marthin Simatupang (73 tahun), pasien BPJS Kesehatan saat masih berada di Rumah Sakit Santa Elisabeth, Rabu malam (8/3/2016). Marthin disuruh pulang dalam kondisi belum sembuh.
Tatapan mata pria tua itu kosong. Ia tak mengeluarkan suara apapun, kecuali sesekali napas dan erangan pelan. Di sekelilingnya, dalam satu ruangan di Rumah Sakit Santa Elisabeth, Medan ada istrinya, dua putranya, serta seorang menantunya.
Mereka menatap pria tua tersebut dengan cemas. Sesekali mereka mengelus pria bernama Marthin Simatupang tersebut dengan segenap doa dan harapan.
Marthin (73) merupakan pasien peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Ia didiagnosa dokter mengalami kanker usus.
Tidak ada ekspresi apapun di wajah Marthin. Hanya tubuhnya yang kurus dan lemah yang seakan berbicara.
Saking kurusnya, tangan Marthin bisa digenggam dengan hanya melingkarkan jari telunjuk dan jempol. Marthin bahkan kesulitan sekadar untuk makan dan duduk. Pahanya terlihat bengkak, tetapi tetap tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Marthin.
Marthin tercatat masuk dan dirawat di RS Santa Elisabeth, Kamis, 25 Februari 2016 malam. Namun, Selasa (8/3) malam, Marthin diharuskan pulang. Keputusan tersebut membuat anggota keluarga Marthin bingung. Sebab, menurut mereka, Marthin masih lemah dan belum semestinya dianjurkan pulang dari rumah sakit.
Keluarga Marthin pun cemas, panik, dan bingung dengan keputusan kepada MArthin. Berkali-kali mereka terlihat mencoba mencari solusi, menelepon ke sana-sini, agar Marthin tetap dapat dirawat tanpa harus rawat jalan (pulang).
Marlina, cucu Marthin yang turut menemaninya di rumah sakit, mengaku kecewa atas keputusan yang menyatakan Marthin harus pulang.
"Padahal lihat lah sendiri. Opung (kakek) kami masih lemah. Belum sembuh sama sekali," kata Marlina dengan suara tersedan, karena melihat kondisi kakeknya. Yang membuat pihak keluarga bingung, tidak ada pihak yang bertanggung jawab atas keputusan yang menyatakan Marthin harus pulang.
Awalnya, menurut keterangan pihak keluarga, dokter LS (Liberty Sirait), yang meminta agar Marthin pulang, berdasar arahan BPJSKesehatan. Muncul dugaan Marthin diharuskan pulang, karena biaya perobatan Marthin telah mencapai limit.
Pihak keluarga kemudian mengonfirmasi hal tersebut, dan dugaan tersebut disanggah pihak BPJS Kesehatan. Baik pihakBPJS Kesehatan, manajemen rumah sakit, maupun dokter yang menangani, sama-sama tak mengakui memerintahkan pasien pulang. Tetapi, meski mereka tak ada yang mengaku, pasien tetap dinyatakan harus pulang.
"Pertama dokter bilang harus pulang, katanya disuruh BPJS. Terus kami tanya sama orang BPJS. Orang BPJS bilang, 'Kami gak ada nyuruh pulang'. Terus kami tanya lagi sama dokternya, dokternya bilang, 'Nggak ada ah, saya suruh pulang'. Akhirnya kami bingung, siapa sebenarnya yang nyuruh opung kami pulang. Tetapi opung tetap harus pulang malam ini juga. Kami gak ngerti kenapa disuruh pulang. Sementara opung kami belum sembuh," kata Marlina.
Apa yang dialami Marthin menambah panjang daftar kasus pelayanan kesehatan yang mengecewakan terhadap pasien BPJSKesehatan.
Hingga Marthin dinyatakan harus segera meninggalkan rumah sakit, keluarga belum juga mendapatkan kepastian pihak mana yang sebenarnya menyatakan Marthin harus pulang dan berobat jalan.
Namun, karena sudah diharuskan pulang, pihak keluarga pasrah dan mengikuti apa yang diputuskan terhadap Marthin.
Dalam kondisi masih terbaring tak berdaya di atas tempat tidur, Marthin kemudian dibawa ke luar rumah sakit. Ia kemudian pulang dengan naik ambulans, ditemani istri dan cucunya, Marlina.
Di dalam surat keterangan dokter, pada kolom kondisi pasien saat pulang, yang dicentang adalah bagian 'Pulang Sembuh'. Tribun sempat menyaksikan kondisi Marthin di RS Santa Elisabeth hingga detik-detik dibawa keluar oleh keluarganya naik mobil ambulans.
Keluar dari RS Santa Elisabeth, pihak keluarga kemudian membawa Marthin ke RS Putri Hijau. Di sana, Marthin langsung ditangani. Dalam perjalanan menuju RS Putri Hijau, kata Marlina, Marthin beberapa kali mengerang kesakitan. "Makanya tadi jalannya pelan-pelan ambulansnya," ujar Marlina, saat tiba di RS Putri Hijau.
Marthin merupakan pasien peserta BPJS Kesehatan. Sejak dulu, sejak bekerja sebagai pegawai negeri sipil, ia memang telah memiliki asuransi kesehatan dari PT Askes.
Baginda, putra Marthin, tak mengerti kenapa ayahnya harus pulang dalam kondisi masih lemah. Ia mengaku, telah berupaya memohon kepada pihak rumah sakit agar ayahnya tetap dirawat meski tanpa asuransi BPJS Kesehatan.
"Tetap harus close kata mereka. Harus pulang malam ini juga. Saya sudah coba, maksudnya bayar pakai uang sendiri pun gak apa-apa, tapi tetap gak bisa," ujarnya.
Baginda mengatakan, dulu, saat BPJS Kesehatan masih bernama PT Askes, pelayanan kesehatan yang dinikmati ayahnya cukup bagus. "Dulu gak kayak gini. Setelah ganti nama diginiin. Dulu bagus waktu masih Askes namanya. Malah dulu kalau bapak minta pulang malah ditahan supaya sembuh betul," ujarnya, yang turut ditimpali oleh istrinya, adiknya, dan ibunya (istri Marthin).
Rabu pagi, Tribun kembali melihat kondisi Marthin di RS Putri Hijau. Menurut istrinya, kondisi Marthin mulai membaik, meski masih lemah. "Sudah bisa makan walaupun cuma sedikit," kataistri Marthin.(amr)
Tatapan mata pria tua itu kosong. Ia tak mengeluarkan suara apapun, kecuali sesekali napas dan erangan pelan. Di sekelilingnya, dalam satu ruangan di Rumah Sakit Santa Elisabeth, Medan ada istrinya, dua putranya, serta seorang menantunya.
Mereka menatap pria tua tersebut dengan cemas. Sesekali mereka mengelus pria bernama Marthin Simatupang tersebut dengan segenap doa dan harapan.
Marthin (73) merupakan pasien peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Ia didiagnosa dokter mengalami kanker usus.
Tidak ada ekspresi apapun di wajah Marthin. Hanya tubuhnya yang kurus dan lemah yang seakan berbicara.
Saking kurusnya, tangan Marthin bisa digenggam dengan hanya melingkarkan jari telunjuk dan jempol. Marthin bahkan kesulitan sekadar untuk makan dan duduk. Pahanya terlihat bengkak, tetapi tetap tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Marthin.
Marthin tercatat masuk dan dirawat di RS Santa Elisabeth, Kamis, 25 Februari 2016 malam. Namun, Selasa (8/3) malam, Marthin diharuskan pulang. Keputusan tersebut membuat anggota keluarga Marthin bingung. Sebab, menurut mereka, Marthin masih lemah dan belum semestinya dianjurkan pulang dari rumah sakit.
Keluarga Marthin pun cemas, panik, dan bingung dengan keputusan kepada MArthin. Berkali-kali mereka terlihat mencoba mencari solusi, menelepon ke sana-sini, agar Marthin tetap dapat dirawat tanpa harus rawat jalan (pulang).
Marlina, cucu Marthin yang turut menemaninya di rumah sakit, mengaku kecewa atas keputusan yang menyatakan Marthin harus pulang.
"Padahal lihat lah sendiri. Opung (kakek) kami masih lemah. Belum sembuh sama sekali," kata Marlina dengan suara tersedan, karena melihat kondisi kakeknya. Yang membuat pihak keluarga bingung, tidak ada pihak yang bertanggung jawab atas keputusan yang menyatakan Marthin harus pulang.
Awalnya, menurut keterangan pihak keluarga, dokter LS (Liberty Sirait), yang meminta agar Marthin pulang, berdasar arahan BPJSKesehatan. Muncul dugaan Marthin diharuskan pulang, karena biaya perobatan Marthin telah mencapai limit.
Pihak keluarga kemudian mengonfirmasi hal tersebut, dan dugaan tersebut disanggah pihak BPJS Kesehatan. Baik pihakBPJS Kesehatan, manajemen rumah sakit, maupun dokter yang menangani, sama-sama tak mengakui memerintahkan pasien pulang. Tetapi, meski mereka tak ada yang mengaku, pasien tetap dinyatakan harus pulang.
"Pertama dokter bilang harus pulang, katanya disuruh BPJS. Terus kami tanya sama orang BPJS. Orang BPJS bilang, 'Kami gak ada nyuruh pulang'. Terus kami tanya lagi sama dokternya, dokternya bilang, 'Nggak ada ah, saya suruh pulang'. Akhirnya kami bingung, siapa sebenarnya yang nyuruh opung kami pulang. Tetapi opung tetap harus pulang malam ini juga. Kami gak ngerti kenapa disuruh pulang. Sementara opung kami belum sembuh," kata Marlina.
Apa yang dialami Marthin menambah panjang daftar kasus pelayanan kesehatan yang mengecewakan terhadap pasien BPJSKesehatan.
Hingga Marthin dinyatakan harus segera meninggalkan rumah sakit, keluarga belum juga mendapatkan kepastian pihak mana yang sebenarnya menyatakan Marthin harus pulang dan berobat jalan.
Namun, karena sudah diharuskan pulang, pihak keluarga pasrah dan mengikuti apa yang diputuskan terhadap Marthin.
Dalam kondisi masih terbaring tak berdaya di atas tempat tidur, Marthin kemudian dibawa ke luar rumah sakit. Ia kemudian pulang dengan naik ambulans, ditemani istri dan cucunya, Marlina.
Di dalam surat keterangan dokter, pada kolom kondisi pasien saat pulang, yang dicentang adalah bagian 'Pulang Sembuh'. Tribun sempat menyaksikan kondisi Marthin di RS Santa Elisabeth hingga detik-detik dibawa keluar oleh keluarganya naik mobil ambulans.
Keluar dari RS Santa Elisabeth, pihak keluarga kemudian membawa Marthin ke RS Putri Hijau. Di sana, Marthin langsung ditangani. Dalam perjalanan menuju RS Putri Hijau, kata Marlina, Marthin beberapa kali mengerang kesakitan. "Makanya tadi jalannya pelan-pelan ambulansnya," ujar Marlina, saat tiba di RS Putri Hijau.
Marthin merupakan pasien peserta BPJS Kesehatan. Sejak dulu, sejak bekerja sebagai pegawai negeri sipil, ia memang telah memiliki asuransi kesehatan dari PT Askes.
Baginda, putra Marthin, tak mengerti kenapa ayahnya harus pulang dalam kondisi masih lemah. Ia mengaku, telah berupaya memohon kepada pihak rumah sakit agar ayahnya tetap dirawat meski tanpa asuransi BPJS Kesehatan.
"Tetap harus close kata mereka. Harus pulang malam ini juga. Saya sudah coba, maksudnya bayar pakai uang sendiri pun gak apa-apa, tapi tetap gak bisa," ujarnya.
Baginda mengatakan, dulu, saat BPJS Kesehatan masih bernama PT Askes, pelayanan kesehatan yang dinikmati ayahnya cukup bagus. "Dulu gak kayak gini. Setelah ganti nama diginiin. Dulu bagus waktu masih Askes namanya. Malah dulu kalau bapak minta pulang malah ditahan supaya sembuh betul," ujarnya, yang turut ditimpali oleh istrinya, adiknya, dan ibunya (istri Marthin).
Rabu pagi, Tribun kembali melihat kondisi Marthin di RS Putri Hijau. Menurut istrinya, kondisi Marthin mulai membaik, meski masih lemah. "Sudah bisa makan walaupun cuma sedikit," kataistri Marthin.(amr)
sumber : tribunnews.com
loading...
0 Response to "Nasib Pasien BPJS, Disuruh Pulang. Padahal Sakit Kanker Ususnya Masih Parah"
Posting Komentar